Kemah Bersama Ara

Azan zuhur menggema.

“Om, Auwoh..” Begitu cara Ara bilang kalau dia ingin ikut salat.

Sedari pagi, saya dan Ara mendirikan “kemah” darurat di bawah tangga masjid di sebuah rumah sakit di Karanganyar.

Kakak kandung saya, ayahnya Ara, terjatuh dari sepeda motor beberapa hari lalu. Jalanan licin dan hujan tak berhenti dari pagi. Lengan kirinya patah dan harus dioperasi. Agenda cuti saya, mau tak mau, harus sedikit berubah.

Operasi berjalan lancar, dan Ara masih terlalu kecil untuk diizinkan masuk ke area rumah sakit. Itulah kenapa kami akhirnya terdampar di beranda masjid.

Sebelum saya menjawab ajakannya, Ara sudah mengambil mukena dari gantungan di dekat kami. Tentu saja mukena untuk orang dewasa, tapi dia tetap memakainya dan buru-buru menyusup di tengah nenek-nenek di barisan wanita.

Demi menjaga citra di depan keponakan dan orang-orang yang menatap curiga seorang lelaki bertato yang rebahan di karpet bergambar doraemon bersama gadis lucu berumur tiga tahunan, saya pun segera berwudu dan ikut salat berjamaah.

Salat zuhur berjalan lancar tanpa kendala. Saya masih ingat bacaannya. Bagaimanapun, saya pernah jadi anak masjid waktu kecil dan pernah jadi juara lomba azan di KUA.

Selesai salat, sang imam naik ke mimbar. Bicara tentang betapa beruntungnya kami yang masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah salat bersama dan sebagainya dan sebagainya. Hingga di satu titik, saya memutuskan keluar dari ruangan.

“Di dalam ajaran Islam itu sudah jelas, kalau hanya Islam yang paling benar. Tapi, kok masih ada yang beriman pada ajaran lain?”, kata sang imam.

Saya meringis mendengar kalimat itu. Betapa ganjil logikanya: Sesuatu hal adalah kebenaran mutlak yang harus diimani semua umat manusia, karena dia mengatakan bahwa dirinya sebagai satu-satunya kebenaran? Isi kitab A benar, karena isi kitab A mengatakan kalau isi kitab A benar?

Usai mengatakan itu, sang imam kemudian melanjutkan, “Budaya Jawa itu budaya Hindu. Sudah Islam, kok masih ruwatan, terus menyimpan ari-ari bayi di sudut rumah. Piye, kuwi?” Tepat di titik itulah, saya mengambil keputusan untuk walk out.

Saya lahir dari orang tua Jawa. Saya bukan termasuk orang yang terlalu mengagung-agungkan kebudayaan masa lalu yang adiluhung bla bla bla. Tapi, saya percaya, segala sesuatu tentang diri dan kehidupan dan lingkungan di sekitar saya, bukan sesuatu yang terberi tiba-tiba.

Semuanya melalui proses yang panjang, sangat panjang. Dan, proses itulah yang disebut sebagai kebudayaan.

Itulah kenapa, saya menolak bersepakat dengan seseorang yang hanya sibuk bicara soal baik dan buruk, benar dan salah, dari sudut pandangnya sendiri, tanpa bersedia menyelami dan menghargai proses panjang itu tadi.

Saya percaya, tingkatan tertinggi spiritualitas adalah ketika seorang manusia sanggup melepaskan egonya: Tak ada nafsu kepemilikan, tak ada keinginan untuk mengklaim diri sebagai satu-satunya pemegang kebenaran. Salat lima waktu itu mudah, tapi salat dan tetap menghargai yang tak salat, itu susah.

Di luar pintu masjid, saya menemui Ara yang sudah melepas mukena, “Auwohnya udah kan, Nduk. Bobo sini, yuk.” Kami kembali bermain kemah-kemahan. Suara sang imam masih terdengar lantang, menjadi latar belakang.

 

Karanganyar, 30 Juli 2017

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *