Pilihan Bebas dan Efek Kupu-kupu

+ Kau, tahu?
– Apa?
+ Saat menghadapi sesuatu, seseorang yang menggunakan logika akan membaca tanda-tanda, melihat pola, kemudian menganalisa. Sementara seseorang yang beriman akan menyimpulkan tentang skenario Tuhan.
– Lalu?
+ Tuhan selalu jadi kambing hitam.
– Itu salah?
+ Itu masalah.
– Kenapa?
+ Kita semua punya pilihan bebas. Sesuatu terjadi atas dasar pilihan yang kita ambil.
– Tanpa campur tangan Tuhan?
+ Tuhan hanya mengamini pilihan kita.
– Contohnya?
+ Artis-artis sinetron itu. Ketawa-ketiwi sambil bilang “kami dipertemukan Tuhan” saat menjelang pernikahan. Menangis sambil mengatakan “ini rencana terbaik Tuhan” saat perceraian.
– Itu keliru?
+ Itu cuci tangan.
– Cara kerja Tuhan tak begitu?
+ Seharusnya tak seperti itu.
– Kau bilang, kita semua punya pilihan bebas?
+ Iya.
– Termasuk perasaan cintamu padaku?
+ Termasuk itu.
– Kau merasa mencintaiku itu sebuah pilihan?
+ Betul.
– Kau punya pilihan untuk tidak mencintaiku?
+ Sepertinya begitu.
– Kenapa kau memilih yang pertama?
+ Karena itu yang terbaik.
– Tahu apa kau tentang kebaikan?
+ Tak tahu apa-apa. Aku cuma tahu kalau mencintaimu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan.
– (………)
+ Kenapa kau tersipu?
– Tak apa-apa. Kau tahu tentang efek kupu-kupu?
+ Tahu.
– Bahwa kepakan sepasang sayap kupu-kupu di belantara Brasil mempengaruhi badai di Texas berbulan-bulan kemudian?
+ Iya.
– Bahwa sekecil apapun langkah yang kita ambil saat ini punya pengaruh besar terhadap kehidupan kita kelak?
+ Memang.
– Kau tak takut?
+ Takut apa?
– Badai besar di masa depan.
+ Kenapa takut? Saat ini pun sudah ada badai di hatiku.
– (………)
+ Sebesar apapun badai yang nanti kuhadapi, paling tidak ada satu kebenaran yang sedang kulakukan hari ini.
– Jadi, bagimu, mencintaiku adalah hal yang baik dan benar?
+ Iya.
– Kau tampak mulai beriman?
+ Oh, ya?
– Iya.
+ Mungkin. Dalam hal ini.
– Hanya dalam hal ini?
+ Hanya dalam hal ini.

 

Jakarta, 25 Desember 2016

2 Comments

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *