Rintik Hujan di Kampung Halaman

Rintik gerimis dan bau tanah basah langsung menyambut saat saya turun dari bus Rajawali jurusan Semarang-Solo. Penunjuk waktu di ponsel menunjukkan jam 20:49.

“Duduk sini lho, Mas,” lelaki tua itu tersenyum ramah. Asap rokok berlarian dari sudut bibirnya. Saya pun menghampiri untuk kemudian duduk di depannya. Seorang lelaki lain yang jauh lebih muda kemudian menyapa, “Nunggu jemputan ya, Mas?”. Saya mengiyakan sambil menawarkan sebatang rokok padanya. Dia menolak dengan sopan, “Terima kasih. Saya ada (rokok) kok, Mas.”

Setelah mengirim pesan singkat ke keponakan saya untuk memberitahukan bahwa posisi saya ada di pangkalan ojek seberang pintu keluar Terminal Tirtonadi, kami kemudian terlibat percakapan.

“Hujan sejak jam berapa tadi, Pak?”
“Sudah sejak sore, Mas”, jawabnya, “Setengah empat tadi deres banget, sampai hujan angin.”
Lelaki yang lebih muda kemudian menyahut, “Sekarang musim tak bisa ditebak, Mas. Bulan Juni saja kadang hujan deras.”

Denting gitar Ari Malibu dan suara bening Reda Gaudiamo tiba-tiba mengalun di pikiran saya: Hujan Bulan Juni (Miras jenis apa yang diminum Sapardi sebelum menulis puisi ini?)

“Kasihan petani kalau begini, Mas. Waktunya panen malah terendam,” pembicaraan kami terus berlanjut sementara rintik terus saja berisik. Tempias dan bias lampu jalanan mengirim gigil dan deretan kenangan.

Betapa ternyata saya begitu merindukan suasana semacam itu: percakapan tak penting dengan orang-orang asing. Di sini, nama dan identitas menjadi sesuatu yang tak begitu perlu. Saya hanya tahu, bahwa mereka adalah tukang ojek yang sedang menunggu pelanggan. Begitu pula sebaliknya, mereka mungkin hanya tahu kalau saya adalah seorang pejalan yang kemalaman.

Kami sama-sama asing. Saya tak paham sejarah dan kebahagiaan dan penderitaan mereka, begitu pula sebaliknya. Tapi, malam ini, hujan mempertemukan (dan menyatukan) kami dalam sebuah perbincangan sesaat. Sebuah perbincangan yang sedikit banyak menerbitkan sebuah kesadaran, betapa kehangatan semacam ini hampir tak pernah saya temui di kota yang saya tinggali beberapa tahun terakhir ini: Jakarta.

Saya memutuskan untuk mengambil cuti saat kondisi politik di Jakarta sedang panas-panasnya. Baru beberapa minggu lalu, ratusan orang turun ke jalanan untuk menuntut kepastian hukum terhadap seorang calon gubernur yang dituduh menistakan sebuah agama. Hari Selasa kemarin adalah sidang pertamanya. Tak hanya di dunia nyata, saling hujat dan saling serang antara pendukung dan penentang juga terjadi di sosial media. Dan, itulah derita bagi kami yang bekerja di portal media: yang setiap waktu harus berkutat dengan banjir informasi (entah benar, setengah benar, atau sama sekali tak benar) yang tak henti mengalir deras, mengisi tiap sudut ruang kosong di kedalaman pikiran.

Sekian tahun bekerja di portal media membuat saya cukup sadar, bahwa ada kalanya saya harus memutuskan untuk menarik diri dari riuh rendah dunia nyata dan dunia maya: mengambil jeda sejenak, meninggalkan Jakarta beserta keruwetannya, menggunakan sesedikit mungkin jaringan internet, dan menata pikiran serta hati dengan menjalani ritme hidup yang pelan dengan penuh kesadaran.

Kita adalah generasi yang tumbuh besar dalam gempuran teknologi komunikasi yang melaju dengan kecepatan membabi buta. Kita adalah orang-orang yang bergegas: selalu terburu-buru dan (merasa) dikejar-kejar sesuatu. Kita bukan lagi sekadar konsumen informasi yang ditawarkan oleh media, kita adalah pembuat informasi itu sendiri. Kita bebas untuk menduplikasi atau mereduksi sebuah informasi. Cukup dengan mengeklik tombol “share”, orang bisa tahu ideologi semacam apa yang kita imani. Kita adalah orang-orang berisik: yang selalu merasa belum cukup hidup jika belum mengomentari apa yang sedang terjadi.

Untuk itulah, saya merasa perlu untuk sesekali “pulang”. Ah, kosakata itu mungkin sebenarnya tak begitu tepat. Karena faktanya, saya sudah tak merasa bahwa rumah peninggalan orang tua saya di sebuah kampung di pelosok Karanganyar ini sebagai “rumah”. Terkadang saya justru merasa kata pulang lebih layak dipakai ketika saya kembali ke kamar kos saya yang sempit di Jakarta. Tapi, apa perlunya terlalu sibuk mendefinisikan arti sebuah kata?

Satu hal yang pasti, di rumah peninggalan orang tua ini, saya bisa merasakan sisa-sisa jejak almarhum ayah dan almarhumah ibu saya di tiap-tiap sudutnya. Wangi kayu lapuk di rumah ini seringkali melemparkan ingatan pada tahun-tahun yang telah lampau: saat saya menelusup ke ketiak ibu sambil bercerita tentang rencana pentas kelompok teater kampus saya, juga kenangan sekitar Januari 1998 saat saya tiba di rumah sambil menangis ketakutan sehabis diinterogasi dan dihajar tentara Koramil Tawangmangu (hanya) karena saya (yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP) mencorat-coret foto Presiden Soeharto (di mana kasus itu nyaris membuat saya menjadi tahanan politik termuda di Indonesia), dan ribuan deretan kenangan yang lainnya.

Ah, entah kenapa, dini hari ini saya menjadi sedikit melankolis. Saya membayangkan, mungkin akan menyenangkan jika saat ini saya dan ayah saya ada kesempatan untuk menyesap secangkir kopi di teras depan sambil membakar berbatang-batang rokok dan membicarakan isu-isu terkini (sementara ibu sesekali menimpali sambil merajut di dekat kami). Pasti akan sangat menyenangkan, saya kira.

Sebagai anak terakhir, saya tidak pernah benar-benar dekat dengan ayah saya. Sejak kecil, hampir setiap waktu saya selalu berkomunikasi dengan beliau menggunakan bahasa Jawa halus. Beliau adalah seorang kepala SD yang kaku dan cukup tegas dan jarang tertawa. Satu hal yang masih terus teringat dari beliau adalah bulu-bulu jenggotnya yang kasar menggesek pipi saya ketika beliau menggendong dan menciumi saya pada suatu siang (satu hal yang seingat saya hanya terjadi sekali dan tak pernah terulang lagi).

Tapi, sebesar apapun kerinduan itu, saya cukup paham, ada banyak hal yang mustahil terjadi di dunia ini. Saya tak berharap apa-apa. Saya hanya membayangkan, sepertinya akan menyenangkan jika saya punya kesempatan untuk menikmati kopi bersama ayah dan ibu saya saat ini. Di tengah rinai gerimis, mungkin kami akan membual tentang banyak hal: betapa Jakarta kian hari kian menjadi semakin panas dan beringas, betapa kedunguan menjadi semakin merajalela di sekitar kita, betapa manusia tampak semakin memalukan dan penuh kebencian, betapa ada baiknya jika negara ini dibubarkan, dan sebagainya dan sebagainya. Mungkin kami juga akan berbincang tentang hal-hal sederhana: tentang mimpi-mimpi dungu yang harus segera berhenti, tentang cinta yang terlalu besar dan keras kepala, tentang kebodohan-kebodohan yang seharusnya tak pernah dilakukan, tentang segumpal rindu yang kian membatu, dan semacamnya dan semacamnya. Sepertinya sangat menyenangkan.

Mungkin pembicaraan di antara kami hanya akan berhenti ketika kami sudah sama-sama mengantuk, dan saya berucap pelan kepada mereka, “Pak, Bu, saya lelah. Sangat lelah.”

 

Mojogedang, 14 Desember 2016

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *